Menulis Biografi, Pembelajaran Berempati

 Menjadi penulis biografi, adalah pembelajaran untuk terus berempati. Karena itulah sejak awal pertama menulis biografi saya tidak setuju dengan guru menulis saya yang mengatakan bahwa penulisan biografi bisa dibuat untuk industri penulisan yang tertarget; selesai tepat waktu dan lanjut dengan penulisan tokoh yang lainnya.

Menulis biografi adalah menulis kisah hidup. Jadi, untuk mendapatkan kisah hidup yang akurat dari tokoh haruslah saat sang tokoh dalam keadaan mood yang bagus. Karena alasan inilah tidak jarang penulisan biografi tertunda penyelesaiannya.

Belakangan ini saya harus menunda penulisan buku autobiografi seorang tokoh perpajakan nasional karena sang istri tercinta meninggal. Sang tokoh yang sangat menyintai pasangan hidupnya dan sering menyebut belahan jiwanya ini dalam berbagai tahapan hidup harus menghentikan proses penulisan. Bukan itu saja, penambahan beberapa judul dimasukkan untuk mengenang bidadarinya ini.

Menyikapi proses penulisan yang tertunda yang berpengaruh pada pembayaran yang juga tertunda ini maka sepatutnya seorang penulis biografi mempunyai usaha sampingan selain proyek penulisan biografi. Karena itulah saya juga mempunyai jasa penulisan buku umum dan konten perusahaan sebagai sumber income saya. Saya mempunyai toko online penjualan ensiklpedia Islam sebagai tambahan income disaat proses penulisan biografi tertunda.

Dan hasilnya, penulisan biografi yang dilakukan dalam waktu yang cukup, tidak terburu-buru, menghasilkan buku yang mampu berkisah mewakili perasaan hati tokohnya. Buku yang ditulispun bisa menggambarkan bagaimana proses tokoh saat awal menikah, menjalani karir bersama pasangan, menjalani masa tua bersamanya hingga akhirnya perasaan hatinya saat belahan hati yang diberikan Tuhan kepadanya ini harus pergi dari sisinya untuk selamanya.

Ya, menulis biografi adalah menulis kisah hidup. Ini bukan industry. Ini adalah pembelajaran kita untuk berempati. Jika selama ini ucapan, tulisan dan berbagai bentuk argumen kita ingin lebih dominan dari orang lain, maka semua itu adalah kendala terbesar untuk menjadi penulis biografi.

Sebagaimana seorang klien saya mengatakan, “Saya ingin menulis kisah hidup saya supaya ada orang yang mau mendengar kisah hidup saya dan membukukannya. Mungkin kelak pengalaman hidup saya ini akan bermanfaat bagi keluarga dan orang-orang sekitar saya.”

2 thoughts on “Menulis Biografi, Pembelajaran Berempati”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *